Kisah Penjual Sate Yang Menuai Berkah

Kisah Inspirasi Para Pelaku Sholat Dhuha

Kisah Inspirasi - Nama lengkap pria itu sekarang adalah H. Mohammad Syafi’i. Namun orang-orang mengenal dan memanggilnya dengan Cak Pi’i. Pria asal Sampang Madura ini merupakan pengusaha warung makan sate Madura sukses di Sleman, Yogyakarta.

Semula, Cak Pi’i hanya perantau biasa. Dia datang ke Jogja tanpa memiliki niat untuk menjual sate. Dia hanya ikut salah satu seorang temannya yang sudah lebih dulu membuka warung sate. Di tempat temannya inilah, Cak Pi’i tinggal dan bermaksud mencari pekerjaan lain selain menjadi penjual sate.
“Dulu, saya tidak tertarik menjadi tukang sate. Saya datang ke Jogja untuk mencari pekerjaan lain. Kebetulan saya punya keahlian di bidang mebel. Jadi saya ingin bekerja di mebel”, katanya.

Berbagai tempat mebel sudah ia datangi untuk melamar. Namun tak satu pun lamarannya yang diterima. Karena merasa tidak enak, Cak Pi’i akhirnya mencoba menawarkan untuk membantu pekerjaan temannya itu.

“Masak saya nggak bantu-bantu, kan malu. Padahal, saya numpang di rumahnya”, katanya dengan logat Madura kental.
Pekerjaan pertama yang diberikan oleh temannya kepada Cak Pi’i adalah memotong daging dan menggiling bumbu sate. Dari dua pekerjaan inilah Cak Pi’i menjadi tahu tentang daging mana yang paling pas untuk dibuat sate dan juga seperti apa membuat bumbu sate agar enak.

“Saya juga dikasih komisi oleh teman saya. Dan komisi itu sebagian saya tabung”. Setelah dua tahun bekerja di warung sate temannya, Cak Pi’i akhirnya pamit untuk membuka warung sate sendiri. Dengan uang tabungannya dia mengontrak sebuah tempat di daerah Sleman dan mulai berjualan sate.  “Warung sate boleh banyak, Mas. Tapi rezekinya kan beda-beda”.

Sekali pun warung sate di daerah Sleman sudah banyak, namun Cak Pi’i tetap optimis dengan usahanya. Dia mencoba membuat bumbu sate yang berbeda dengan bumbu sate biasanya. Dia selalu belajar bagaimana meracik bumbu yang khas dan berbeda. Dan dari sanalah kemudian sate miliknya menjadi terkenal.

Warung sate Cak Pi’i semakin berkembang. Dari usahanya itu dia juga bisa membeli tanah sendiri. Warung satenya bertambah besar, dan tidak hanya satu. Dia juga membuka cabang di beberapa daerah lain di Sleman. Saat ditanya rahasia lain selain bumbu satenya yang khas, lelaki ini hanya tersenyum.

“Mungkin ini adalah berkah dari sholat Dhuha. Sejak saya memutuskan membuka usaha sate sendiri, saya tidak pernah lupa untuk melakukan sholat Dhuha. Penjual sate disini kan sangat banyak. Menurut saya, kalau tidak sholat Dhuha, sangat sulit untuk memajukan usaha ini sampai seperti sekarang”.

Pilihan lelaki ini memang rasional. Memang sangat sulit untuk meraup untung berlipat dari sebuah pekerjaan yang dilakukan banyak orang. Kalau bukan karena usaha keras dan juga doa, rasanya memang mustahil Cak Pi’i dapat menjadikan usahanya semakin bertambah besar. Apalagi dari usahanya itu ia bisa naik haji, membuka cabang baru dan bisa menyekolahkan anaknya hingga tamat di Fakultas Kedokteran UGM.

Semua bisa menduga berapa banyak biaya yang dihabiskan Cak Pi’i untuk membiayai kuliah anaknya di sebuah jurusan yang mahal itu. Namun itulah rahasia Allah yang diturunkan salah satunya melalui sholat Dhuha dan sebuah usaha.

Kisah Penjual Sate Yang Menuai Berkah Kisah Penjual Sate Yang Menuai Berkah Reviewed by Raizal on Juli 08, 2017 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.